Tiba-tiba malam ini ingin kembali ke beberapa tahun yang lalu. Lantas, ku gapai diary usang, tersipu malu dan sumringah ku dibuatnya. Ada foto usang dimasa kecil bersamamu. Rindu kembali mengusikku. Damailah di sana hingga waktu kembali mempertemukan kita. Ada juga beberapa puisi yang menyinggung hati, ahh, betapa hatiku pernah tertuju pada sebuah hati. Cukup hanya dihati. Cinta pun mati teriring waktu.
"Dia"
Dia pernah ada
Mengisi kesepian
Memberikan cahaya pada kegelapan
Menumbuhkan aura keberanian
Menyembuhkan rasa kesakitan
Saat ku terkapar bagaikan ilalang
Ku makhluk yang terbuang
Mungkin dia utusan
Untuk mengisi kekosongan
Lalu....
Dia pergi
Saat ku mulai menulis namanya
Dilubuk hatiku
05092007
22:35
Saat itu, kondisi memaksakan untuk bangkit sebagai sosok yang dewasa. Usia bukan alasan untuk mengatakan belum saatnya. Mungkin, itulah jawaban pada sebuah doa, "Rabbi, ajari aku tentang kehidupan, tetapkan aku pada rel-rel kebenaran"..... Sebuah puisi mewakili tentang rasa.
"Untitled"
Malam semakin larut
Meninggalkan kesan tentang cerita siang
Dentingan jam semakin melaju
Angka demi angka terlewati
Ahh! ada seorang gadis
Duduk menyendiri
Mata tak ingin pejam
Sedang waktu menjelma fajar
Banyak yang harus difikirkan
Tentang kehidupan
Padahal waktu semakin akut
Tanggungjawab belum terlaksanakan
Ku bukan hidup sebagai seorang yang mati!
02092007
01:06 a.m
Kekhawatiran pada kehilangan, kehilangan pada seorang yang terkasih. Sulit rasanya menjalani hari-hari yang mendatang tanpanya. Ku sudah membayangkan jauh sebelum 09 Dec 2011 kau menghadap Sang Khalik. Sedang ku tak berkesempatan membahagiakanmu. Masih saja anak kecilmu yang merengek dalam pelukan manjamu. Maafkan aku. Tebersit sebuah penyesalan tak menemani hari-harimu.
"Mawar Merah Layu"
Duduk seorang tua ditepi jendela
Tajam nun jauh ratapan
Setiap senja ku melihat sia di situ
Resah.....
Sekuntum mawar merah sudah layu digenggaman
Betapa usang sebuah penantian
Tak kunjung kelibat sang pujaan...
Remang-remang dikaki langit semakin menjingga
Mengantar malam keribaan
Sang tua tegar menanti
Sampai kapan?
Kapan?!
Sedang esok menjemput lenanya
Pada peraduan terakhir
Usailah semuanya
Bersama mawar merah yang layu
09092007
02:48
No comments:
Post a Comment